Selama ini, Indonesia cenderung berfokus pada model pertama. Sistem pendidikan masih menitikberatkan pada angka, skor, dan kemampuan dasar membaca. Padahal, menurut Paulo Freire, literasi adalah proses “membaca dunia”. Dalam arti lain, literasi merupakan alat untuk membangun kesadaran kritis dan memahami realitas sosial.
Ekosistem Literasi yang Belum Terbangun

Rendahnya literasi di Indonesia tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Masalah ini bersifat sistemik dan melibatkan banyak aspek.
Ketimpangan Akses dan Kualitas
Masih banyak wilayah yang belum memiliki akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Perpustakaan aktif dan ruang belajar yang nyaman juga belum merata.
Pembelajaran yang Berorientasi Hafalan
Praktik pembelajaran di sekolah masih cenderung menekankan hafalan, bukan pemahaman. Hal ini terlihat dari rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis teks kompleks.
Minimnya Budaya Literasi di Keluarga
Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan membaca. Namun, budaya membaca di rumah masih tergolong rendah.
Tantangan Era Digital
Kemajuan teknologi menghadirkan paradoks. Informasi semakin mudah diakses, tetapi kedalaman membaca justru menurun. Konsumsi informasi yang serba cepat membuat pemahaman menjadi dangkal.
Catur Pusat Pendidikan: Strategi Komprehensif yang Perlu Diaktifkan
Sebagai upaya mengatasi krisis literasi, pemerintah melalui kementerian terkait mulai kembali mengangkat konsep Catur Pusat Pendidikan. Konsep ini melibatkan empat elemen utama, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, dan media.



Tinggalkan Balasan