Jarang Digunakan di Dapur Modern: Kisah Rempah yang Tersingkir

Lantas, mengapa kemukus hampir tidak pernah terlihat di dapur Indonesia modern?
Jawabannya ada di sejarah perdagangan rempah. Pada tahun 1640, Raja Portugal membuat keputusan yang mengubah nasib kemukus selamanya: penjualan kemukus dilarang — bukan karena kemukus berbahaya, melainkan karena ia mengancam dominasi lada hitam yang saat itu menjadi komoditas ekspor utama Portugal. Keputusan politis ini secara langsung menyebabkan penggunaan kuliner kemukus merosot drastis di Eropa, dan dampaknya terasa hingga hari ini.
Di Indonesia sendiri, pergeseran selera juga berperan besar. Masuknya cabai merah dari Amerika pada abad ke-16 yang lebih mudah dibudidayakan dan lebih praktis untuk membuat sambal segar, perlahan menggeser berbagai rempah tradisional termasuk kemukus dari dapur masyarakat. Akibatnya, kemukus lebih banyak hidup di dunia jamu dan pengobatan tradisional daripada di atas piring makan.
Padahal, potensi kulinernya sebenarnya luar biasa. Kemukus cocok dipadukan dengan hidangan kerang, ikan, bebek, daging domba, hingga makanan penutup asam manis. Fungsinya mirip lada — memberikan rasa pedas sekaligus mengurangi aroma anyir pada masakan — namun dengan profil aroma yang jauh lebih kaya dan kompleks. Di Maroko, kemukus masih digunakan hingga kini dalam hidangan gurih dan kue kering tradisional.




Tinggalkan Balasan