Mengenal Teureubangan, Warisan Seni Dakwah Islam Jawa Barat yang Terus Bergema di Rancaekek

Prolite Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital, masih ada suara yang tak pernah kehilangan maknanya. Dentuman rebana yang berpadu dengan lantunan shalawat terus menggema dari kampung ke kampung di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama teureubangan atau terbangan, sebuah kesenian tradisional Islam yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Jawa Barat selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Bukan sekadar hiburan, teureubangan menyimpan nilai dakwah, kebersamaan, hingga pelestarian budaya. Menariknya, di Rancaekek justru generasi muda menjadi garda terdepan yang menjaga tradisi ini tetap hidup. Lalu, seperti apa sejarah dan keistimewaan teureubangan? Simak ulasannya berikut!

Teureubangan, Seni Dakwah yang Lahir dari Perpaduan Budaya dan Islam

Teureubangan merupakan salah satu bentuk kesenian Islam tradisional yang berkembang di berbagai wilayah Jawa Barat. Kesenian ini identik dengan permainan rebana yang diiringi lantunan shalawat, puji-pujian kepada Allah SWT, serta syair-syair yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai keislaman.

Secara historis, rebana dipercaya mulai berkembang di Nusantara bersamaan dengan masuknya Islam melalui jalur perdagangan pada abad ke-13 hingga ke-16. Para ulama memanfaatkan seni musik sebagai media dakwah yang mudah diterima masyarakat. Dari sinilah berbagai kesenian bernuansa Islami seperti hadrah, marawis, qasidah, hingga teureubangan berkembang di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

Walaupun bukan berasal dari Rancaekek, teureubangan telah beradaptasi dengan budaya lokal dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Ananditha Nursyifa
Editor