Insting Berburu Malam yang Tidak Bisa Dipadamkan
Ini adalah penjelasan yang mungkin paling menarik dari sudut pandang biologi evolusi. Kucing adalah predator krepuskular — paling aktif saat fajar dan senja. Nenek moyang kucing peliharaan modern, kucing liar Afrika (Felis lybica), berburu di jam-jam transisi cahaya — saat mangsa seperti tikus dan burung kecil paling mudah ditemukan dan paling sulit melihat predator yang mendekat.
Karena itulah kucing lebih cenderung mengalami zoomies saat senja dan fajar, berbeda dengan anjing yang mendapatkannya sepanjang hari.
Nah, kucing peliharaanmu mungkin tidak pernah sehari pun berburu di alam liar. Tapi insting itu tidak hilang hanya karena ia sekarang tidur di sofa empukmu. Di dalam otaknya, ketika cahaya mulai memudar di malam hari, “mode berburu” secara biologis mulai aktif.
Kucing adalah pemburu alami. Meskipun tidak ada mangsa nyata, naluri mereka untuk mengejar, menerkam, dan berlari tetap ada. Zoomies dapat meniru sensasi mengejar mangsa.
Jadi ketika kucingmu tiba-tiba melesat dari satu ujung ruangan ke ujung lainnya jam 11 malam, secara biologis ia sedang “berburu.” Mangsa imajinasinya mungkin adalah bayangan di dinding, atau bola benang yang terguling — tapi sensasinya bagi si kucing sama nyatanya.




Tinggalkan Balasan