Fase 1: Terlihat Baik-Baik Saja — Padahal Ini Justru Fase Paling Berbahaya

Di awal-awal setelah putus, banyak laki-laki terlihat fine. Mereka sibuk, aktif di media sosial, rajin nge-gym, atau langsung tancap gas kerja. Dari luar: “Wih, udah move on ternyata.” Tapi secara psikologis, ini bukan move on, ini adalah penghindaran emosi.

Psychology Today (2025) menjelaskan bahwa laki-laki cenderung memproses emosi melalui tindakan dan problem-solving, bukan lewat verbalisasi perasaan. Alhasil, daripada duduk merasakan kesedihan, mereka melakukan sesuatu — apa saja — untuk mengalihkan perhatian. Kerja lebih keras, main game berjam-jam, atau langsung hunting kenalan baru.

Penelitian dari Universitas Melbourne (2025) yang mengikutsertakan 22 pria muda pasca-putus cinta menemukan bahwa emosi mereka sering kali “tercampur”, ada kesedihan sebagai inti, tapi ditutupi oleh emosi lain seperti kemarahan, gengsi, dan rasa ingin terlihat kuat. Campuran ini bisa menyebabkan overwhelm yang, dalam kasus tertentu, bahkan memicu pikiran yang mengkhawatirkan.

Faktor budaya dan maskulinitas juga bermain besar di sini. Laki-laki sejak kecil diajari untuk “kuat,” tidak cengeng, dan tidak menunjukkan kelemahan. Jadi ketika hati hancur, respons pertama adalah: pura-pura tidak apa-apa.

Ananditha Nursyifa
Editor