Pengalaman Masa Lalu Membentuk Cara Kita Menjalin Hubungan

Coping Style

Pernah bertanya-tanya mengapa ada orang yang mudah percaya, sementara yang lain selalu merasa curiga?

Salah satu penjelasannya datang dari attachment theory atau teori keterikatan.

Pengalaman kita bersama orang tua, pengasuh, maupun hubungan-hubungan penting di masa lalu membentuk cara kita memandang kedekatan emosional.

Seseorang yang pernah mengalami penolakan atau pengkhianatan mungkin menjadi lebih sulit membuka hati. Sebaliknya, mereka yang memiliki pengalaman hubungan yang aman cenderung lebih mudah mempercayai orang lain.

Namun, kabar baiknya adalah pola keterikatan bukan sesuatu yang permanen. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hubungan yang sehat, refleksi diri, komunikasi yang baik, hingga bantuan profesional dapat membantu seseorang mengembangkan pola hubungan yang lebih aman (secure attachment).

Menerima Kemungkinan Terluka Justru Membuat Hubungan Lebih Sehat

Sekilas, menerima kemungkinan terluka terdengar menyeramkan.

Namun, justru di sinilah letak paradoksnya.

Ketika kita berhenti mengejar hubungan yang “bebas rasa sakit”, kita menjadi lebih realistis dalam membangun ekspektasi. Kita memahami bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri.

Alih-alih menghindari kedekatan karena takut kecewa, kita belajar membangun batasan yang sehat, berkomunikasi secara terbuka, dan memilih orang-orang yang menunjukkan konsistensi dalam menjaga kepercayaan.

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan rasa hormat, empati, dan kemauan untuk memperbaiki keadaan.

Ananditha Nursyifa
Editor