Sarwin Edi Angkat Kekhawatiran Warga Terkait Dampak PSEL dan Peluang Kerja di Bantargebang

KOTA BEKASI, Prolite Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Bantargebang, Kota Bekasi, menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah warga menyampaikan berbagai aspirasi, mulai dari kekhawatiran terhadap potensi dampak ekologis hingga harapan agar proyek tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

Aspirasi tersebut disampaikan warga saat kegiatan reses Anggota DPRD Kota Bekasi sekaligus Ketua Fraksi Golkar Solidaritas, Sarwin Edi Saputra, yang berlangsung di RT 001 RW 005, Kelurahan Ciketing Udik, Rabu (8/7/2026). Dalam kesempatan itu, Sarwin berdialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan berbagai persoalan yang berkembang di sekitar lokasi pembangunan PSEL.

Salah satu isu yang paling banyak disampaikan warga berkaitan dengan kondisi lingkungan di sekitar proyek. Menurut masyarakat, area yang saat ini sedang mengalami proses perataan lahan sebelumnya merupakan kawasan rawa yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya risiko banjir ketika musim hujan tiba.

Menanggapi hal tersebut, Sarwin menjelaskan bahwa lokasi yang sedang dikerjakan memang berada di kawasan rawa dan berdekatan dengan polder atau kolam retensi air. Karena itu, ia memahami kekhawatiran warga mengenai kemungkinan berubahnya pola aliran air setelah proses pembangunan berlangsung.

“Terkait PSEL, lahan yang sedang dialuruk itu sebenarnya adalah area rawa yang bersebelahan dengan polder atau kolam retensi air. Warga takut apabila rawa dan lahan kosong tersebut selesai diuruk, justru akan memicu banjir saat musim penghujan tiba,” ujar Sarwin.

Ia menambahkan bahwa meskipun pemerintah telah menyediakan polder di sekitar lokasi proyek, sebagian masyarakat masih mempertanyakan kapasitas tampungnya. Menurutnya, hal tersebut wajar mengingat kawasan tersebut secara historis merupakan daerah cekungan atau dataran rendah yang selama ini berfungsi sebagai tempat penampungan air saat hujan turun.

Sarwin mengatakan bahwa kekhawatiran masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Ia menilai kondisi di lapangan harus terus dipantau, terutama ketika musim penghujan datang, untuk melihat apakah pembangunan proyek benar-benar berdampak terhadap lingkungan sekitar atau tidak.

“Warga khawatir saat lahan sudah rata diuruk, air hujan akan mengalir ke mana. Nanti akan kita lihat bersama saat musim penghujan, apakah daerah sekitar terdampak. Jika ternyata proyek ini menimbulkan banjir, itu akan menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi kita untuk mencari solusinya,” tegasnya.

Selain persoalan lingkungan, Sarwin juga menyoroti harapan masyarakat terkait kesempatan kerja. Warga Bantargebang berharap keberadaan proyek PSEL tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah modern, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi melalui terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Menurut Sarwin Edi, aspirasi tersebut merupakan harapan yang wajar. Ia mendukung agar warga lokal memperoleh prioritas dalam kesempatan bekerja. Namun demikian, ia juga mengajak masyarakat untuk memahami karakteristik operasional PSEL yang menggunakan teknologi modern.

Ia menjelaskan bahwa fasilitas pengolahan sampah berkapasitas sekitar 1.500 ton tersebut akan lebih banyak mengandalkan sistem mesin dan otomatisasi dibandingkan proses yang sepenuhnya dikerjakan secara manual. Karena itu, kebutuhan tenaga kerja tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan fisik seperti pada proyek-proyek konvensional.

“Harapan kita tentu saja penyerapan tenaga kerja lokal bisa dilakukan sebanyak-banyaknya. Namun, kita juga harus realistis karena operasional PSEL nantinya tidak semuanya dikerjakan secara manual oleh manusia,” jelas Sarwin Edi.

Melalui kegiatan reses tersebut, Sarwin menegaskan pentingnya menjadikan aspirasi masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan pembangunan PSEL.

Menurutnya, perhatian terhadap aspek lingkungan serta harapan masyarakat mengenai kesempatan kerja perlu dikawal agar proyek dapat berjalan dengan tetap memperhatikan kepentingan warga di sekitar lokasi.

Dialog bersama masyarakat juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang muncul selama proses pembangunan berlangsung. (dit/adv)

Ananditha Nursyifa
Editor