Ia menjelaskan, teknologi tersebut akan memproses sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), material dengan nilai kalor tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk refinery, pabrik, maupun boiler.
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
Sigit mengatakan, teknologi yang dipilih juga harus memenuhi aspek lingkungan dan sosial. Salah satunya dengan memastikan proses pengolahan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat sekitar.
“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Dari sisi investasi, Sigit menyebut nilai pembangunan fasilitas berkapasitas 300 ton per hari masih dalam tahap penghitungan finansial. Berdasarkan proses benchmarking, kebutuhan investasi diperkirakan berada pada kisaran Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.



Tinggalkan Balasan