Escapism bukan musuh, tapi juga bukan solusi utama. Ia seperti tombol pause—berguna, tapi tidak untuk selamanya. Yuk, mulai lebih jujur pada diri sendiri soal kebutuhan emosional kita.
Kalau pelarianmu membantu bernapas sejenak, nikmati. Tapi kalau ia membuatmu makin jauh dari diri sendiri, mungkin sudah saatnya berhenti sejenak dan mencari bantuan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang terus kabur dari realita—melainkan belajar menghadapinya dengan cara yang lebih manusiawi.




Tinggalkan Balasan