Sebaliknya, escapism menjadi tidak sehat ketika:
- Digunakan terus-menerus untuk menghindari realitas
- Mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kesehatan
- Disertai rasa bersalah, kosong, atau kehilangan kontrol
- Menjadi satu-satunya cara menghadapi stres
Di titik ini, escapism bukan lagi jeda, tapi pelarian permanen.
Escapism sebagai Mekanisme Coping dan Hubungannya dengan Kecemasan & Depresi

Dalam psikologi klinis, escapism sering dipahami sebagai bagian dari coping mechanism. Pada individu dengan kecemasan atau depresi, escapism bisa berfungsi sebagai emotion-focused coping—yaitu cara meredakan emosi tanpa langsung menyelesaikan sumber masalah.
Penelitian terbaru hingga 2026 menunjukkan bahwa escapism pasif (seperti konsumsi media berlebihan tanpa refleksi) cenderung berkorelasi dengan peningkatan gejala depresi dan kecemasan. Sementara escapism aktif (misalnya seni, olahraga ringan, atau journaling kreatif) justru bisa bersifat protektif.




Tinggalkan Balasan