Menurut penelitian psikologi modern, escapism bukanlah diagnosis gangguan mental. Ia lebih tepat dipahami sebagai respons psikologis yang bersifat kontinu—artinya, semua orang melakukannya, tapi dalam kadar dan bentuk yang berbeda-beda. Yang jadi soal bukan apakah kita melakukan escapism, melainkan bagaimana dan seberapa sering.
Kenapa Manusia Butuh Pelarian?
Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk bertahan, bukan untuk terus-terusan berada dalam kondisi tertekan. Ketika stres kronis muncul—entah dari pekerjaan, hubungan, ekonomi, atau ekspektasi sosial—otak akan mencari cara untuk “menarik napas”. Di sinilah escapism berperan.
Secara neuropsikologis, aktivitas escapism yang menyenangkan (seperti nonton film atau membaca novel) bisa memicu pelepasan dopamin dan serotonin, dua neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa nyaman dan rileks. Dalam dosis wajar, ini membantu sistem saraf kembali ke kondisi yang lebih stabil.




Tinggalkan Balasan