Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan: Rempah Asli Nusantara yang Bersejarah

Fakta yang mungkin bikin kamu tercengang: sebelum cabai dari Amerika tiba di Indonesia pada abad ke-16, seluruh kuliner Nusantara bertumpu pada rempah lokal, dan Cabai Jawa adalah salah satu primadona pedas kala itu.

Pada masa Kerajaan Majapahit (1293–1527 M), masyarakat Nusantara belum mengenal Capsicum sama sekali. Cabai yang kita kenal hari ini dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis dari Amerika, setelah Christopher Columbus membawanya ke Eropa pada 1493. Sebelum itu, Cabai Jawa bersama lada hitam, jahe, dan andaliman adalah andalan utama untuk cita rasa pedas dan hangat di berbagai masakan tradisional.

Pergeseran besar terjadi setelah abad ke-18, ketika cabai impor dari keluarga Capsicum mulai dibudidayakan luas dan mendominasi pasar. Kepraktisannya untuk dibuat sambal segar membuatnya langsung disukai masyarakat luas. Cabai Jawa pun perlahan tersingkir dari dapur, walau ia tetap bertahan kuat di satu ranah yang jauh lebih penting: dunia pengobatan tradisional.

Hingga kini, Cabai Jawa masih dibudidayakan secara terbatas di Jawa, Madura, Bali, dan Sumatera, dengan sebagian besar produksinya diserap oleh industri jamu dan farmasi. Bahkan, data menunjukkan volume ekspor Cabai Jawa Indonesia pernah melonjak dari 48,3 ton pada 2019 menjadi 405,4 ton dengan nilai Rp19,9 miliar pada 2020 — diekspor ke negara-negara seperti Jepang, Jerman, India, hingga Uni Emirat Arab.

Ananditha Nursyifa
Editor