Apa Itu Logoterapi? Ketika Makna Menjadi Obat

Kata “logo” dalam logoterapi berasal dari bahasa Yunani yang berarti makna (meaning). Secara sederhana, logoterapi adalah terapi melalui makna — sebuah pendekatan psikoterapi yang menempatkan pencarian makna hidup sebagai kekuatan motivasi paling mendasar manusia.

Ini berbeda dari dua raksasa psikologi Vienna yang mendahului Viktor Frankl. Freud berpendapat bahwa motivasi utama manusia adalah pencarian kesenangan (will to pleasure). Adler berpendapat keinginan akan kekuasaan (will to power). Frankl tidak setuju dengan keduanya. Baginya, yang paling mendorong manusia adalah will to meaning — kehendak untuk menemukan makna.

Logoterapi kemudian dikenal sebagai Mazhab Ketiga Psikoterapi Vienna, setelah psikoanalisis Freud dan psikologi individual Adler — sebuah penghargaan yang mencerminkan betapa signifikan kontribusinya.

Tiga Jalan Menemukan Makna: Bahkan di Tengah Penderitaan

Viktor Frankl mengidentifikasi tiga cara utama manusia bisa menemukan makna, dan ini adalah inti dari logoterapi:

Pertama: Creative Value (Nilai Kreatif) — makna ditemukan melalui apa yang kamu berikan kepada dunia. Karya yang kamu ciptakan, tugas yang kamu selesaikan, kontribusi yang kamu buat. Ini bisa berupa seni, pekerjaan, pengasuhan anak, atau bahkan kebaikan kecil sehari-hari.

Kedua: Experiential Value (Nilai Pengalaman) — makna ditemukan melalui apa yang kamu terima dari dunia. Mengalami keindahan alam, menikmati karya seni, dan — yang paling kuat menurut Frankl — mencintai seseorang secara tulus. Cinta, baginya, adalah salah satu sumber makna tertinggi yang bisa dialami manusia.

Ketiga: Attitudinal Value (Nilai Sikap) — ini yang paling revolusioner. Makna bisa ditemukan melalui sikap yang kamu pilih ketika menghadapi penderitaan yang tidak bisa dihindari. Ketika kamu tidak bisa mengubah situasinya, kamu masih bisa memilih bagaimana kamu meresponsnya. Dan di sinilah kebebasan manusia yang sesungguhnya bersembunyi.

Frankl meringkas ini dalam kutipannya yang paling terkenal: “Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms — to choose one’s attitude in any given set of circumstances.”

Ananditha Nursyifa
Editor