Bukan Manja, Bukan Malas, Ini Alasan Ilmiah Kenapa Gen Z Nggak Mau Kerja di Luar Jobdesk!

Prolite Pernah dengar keluhan HRD atau atasan yang bilang, “Gen Z itu susah diajak fleksibel, disuruh bantu kerjaan lain sedikit langsung nolak”? Atau mungkin kamu sendiri adalah si Gen Z yang frustrasi karena tiba-tiba diminta ngerjain hal-hal yang nggak ada hubungannya sama posisimu?

Fenomena ini nyata, sering diperdebatkan, dan sering disalahartikan. Gen Z yang menolak tugas di luar jobdesk bukan berarti malas atau tidak mau berkontribusi. Di balik sikap itu, ada nilai-nilai, pengalaman, dan konteks zaman yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Dan data dari penelitian terbaru membuktikannya.

Gen Z Lebih Menghargai Batas Kerja

Kalau generasi sebelumnya bangga bisa kerja 12 jam sehari dan “all-in” untuk perusahaan, Gen Z punya pandangan yang berbeda, dan penelitian mendukung pandangan mereka.

77% Gen Z memprioritaskan work-life balance daripada naik jabatan secara tradisional, menurut The Interview Guys (Januari 2026) yang menganalisis data terbaru McKinsey dan Deloitte. Ini bukan sekadar tren, ini adalah respons rasional terhadap kondisi nyata yang mereka hadapi.

Gen Z lahir dan tumbuh di tengah berbagai krisis: krisis ekonomi 2008 yang mereka saksikan menghancurkan karier orang tua mereka, pandemi COVID-19, ketidakstabilan pasar kerja, dan kini gelombang PHK massal akibat otomatisasi AI. Hasilnya? Mereka sangat selektif dalam mengalokasikan energi dan waktu mereka, karena mereka tahu bahwa dedikasi penuh pun tidak menjamin keamanan kerja.

Dan mereka sangat sadar akan batas kerja. “This generation talks openly about therapy. They set boundaries without blinking,” tulis Deloitte dalam laporan globalnya. Bagi Gen Z, menetapkan batas bukan tanda kelemahan, ini adalah tanda kesehatan mental yang baik dan bentuk self-respect yang mereka junjung tinggi.

Penting juga dipahami: 80% Gen Z tetap bercita-cita mencapai posisi kepemimpinan puncak menurut SurveyMonkey Workplace Culture and Trends Study (September 2025). Mereka ambisius — hanya saja ambisi itu tidak bersedia mengorbankan kesehatan dan nilai personal. Pembeda yang signifikan dari generasi sebelumnya.

Ananditha Nursyifa
Editor