Menurutnya, karena cerita yang diangkat berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat setempat, suasana di lokasi syuting terasa lebih hidup dan kadang menegangkan. Sementara itu, Annette Edoarda menilai bahwa kekuatan utama film ini terletak pada ceritanya.
“Songko bukan hanya film horor biasa,” ungkapnya. Cerita ini juga menggambarkan bagaimana ketakutan bisa memecah belah sebuah komunitas. Hal ini membuat film terasa lebih emosional, bukan hanya menyeramkan.
Latar Gunung Lokon dan Nuansa Tahun 1986
Salah satu kekuatan visual dari film ini adalah penggunaan latar di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Lokasi ini dikenal memiliki suasana alam yang dramatis, dengan kabut tebal, udara dingin, dan lanskap yang mendukung atmosfer horor.
Tidak hanya itu, setting tahun 1986 juga memberikan sentuhan berbeda. Di masa tersebut, akses informasi masih terbatas, teknologi belum berkembang pesat, dan kepercayaan masyarakat terhadap hal mistis masih sangat kuat. Hal ini membuat cerita terasa lebih realistis dan mencekam.
Komitmen Mengembangkan Perfilman Daerah
Film “Songko” juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah. Tim produksi tidak hanya menggunakan lokasi asli, tetapi juga membangun set yang dirancang sebagai infrastruktur kreatif jangka panjang.




Tinggalkan Balasan