Melalui film ini, Gerald mencoba membawa pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya ingin menakut-nakuti penonton, tetapi juga menghadirkan cerita yang terasa autentik.
Menurutnya, “Songko” adalah kisah yang sangat dekat dengan masyarakat Minahasa. Itulah sebabnya film ini dibangun dengan pendekatan yang kuat terhadap budaya lokal.
Pendekatan ini sejalan dengan tren perfilman 2026 yang mulai mengarah pada “hyperlocal storytelling”, yaitu menggali cerita dari daerah tertentu dengan tetap mempertahankan keaslian budaya.
Sinopsis: Desa yang Dihantui dan Dihancurkan oleh Ketakutan
Cerita “Songko” berlatar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa. Awalnya, kehidupan desa berjalan normal. Namun perlahan, suasana berubah ketika satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan. Tidak ada penjelasan logis yang bisa menjawab kejadian tersebut.




Tinggalkan Balasan