Pengalaman ini lebih dekat dengan konsep impostor phenomenon, yang juga populer disebut impostor syndrome.
Konsep tersebut pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada 1978. Mereka mengamati individu berprestasi yang tetap meragukan kemampuan sendiri meskipun memiliki bukti nyata atas keberhasilannya.
Menurut APA Dictionary of Psychology, individu yang mengalami fenomena ini dapat merasa seperti penipu yang suatu saat akan terbongkar sebagai orang yang tidak kompeten.
Akibatnya, pujian terasa sulit diterima. Alih-alih menganggap apresiasi sebagai pengakuan atas usaha dan kemampuan, seseorang justru berpikir, “Mereka belum tahu kalau aku sebenarnya tidak sehebat itu.”
Tinjauan sistematis dalam Journal of Organizational Behavior pada 2024 juga membahas bagaimana pengalaman impostor berkaitan dengan konteks pekerjaan, persepsi terhadap kemampuan diri, dan berbagai konsekuensi psikologis. Namun, pengalaman ini bukan diagnosis gangguan mental formal dan dapat dialami oleh orang dengan latar belakang yang beragam.
Kenapa Pujian Justru Bisa Membuat Kita Cemas?
Pujian yang seharusnya menyenangkan bisa terasa seperti beban ketika seseorang memiliki penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.



Tinggalkan Balasan