Meski terdengar sepele, RCSE bisa berdampak cukup serius pada kondisi psikologis seseorang.

1. Perilaku Obsesif dan Overthinking

Orang dengan RCSE tinggi cenderung:

  • Terus memantau respons pasangan
  • Overthinking hal-hal kecil (chat singkat, nada bicara, emoji)
  • Sulit merasa tenang tanpa reassurance

Hubungan pun berubah dari ruang aman menjadi sumber kecemasan.

2. Interpretasi Negatif terhadap Kejadian Kecil

Hal-hal netral sering ditafsirkan sebagai ancaman, misalnya:

  • Pasangan sibuk → “Dia sudah bosan sama aku”
  • Tidak diajak hangout → “Aku nggak penting”

Pola pikir ini dikenal sebagai negative cognitive bias, yang dalam jangka panjang bisa memperburuk self-esteem dan relasi.

3. Daya Tahan Emosi yang Rendah

Karena harga diri naik-turun mengikuti kondisi hubungan, regulasi emosi jadi lemah. Konflik kecil bisa terasa seperti krisis besar. Ini juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan gejala depresi, terutama jika hubungan mengalami masalah berkepanjangan.

Hubungannya dengan Kecemasan dan Depresi

Penelitian terbaru hingga 2025 menunjukkan bahwa RCSE berkorelasi dengan:

  • Tingkat kecemasan relasional yang tinggi
  • Fear of abandonment
  • Depressive symptoms saat hubungan bermasalah

Saat hubungan jadi satu-satunya sumber makna dan validasi, kehilangan atau konflik bisa terasa seperti kehilangan identitas diri. Inilah mengapa putus cinta bagi sebagian orang terasa sangat menghancurkan—bukan karena cintanya saja, tapi karena harga dirinya ikut runtuh.

Membangun Harga Diri yang Lebih Sehat (Tanpa Menggantungkan Diri pada Hubungan)

Ananditha Nursyifa
Editor