Dalam dunia psikologi, self-esteem atau harga diri merujuk pada bagaimana seseorang menilai nilai dan keberhargaan dirinya sendiri. Nah, relationship-contingent self-esteem (RCSE) adalah bentuk harga diri yang kondisional—khususnya bergantung pada kualitas dan stabilitas hubungan romantis.
Konsep ini banyak dibahas dalam penelitian psikologi sosial dan kepribadian. Salah satu rujukan awalnya datang dari riset Jennifer Crocker dan kolega tentang contingent self-worth, yang menjelaskan bahwa sebagian orang menggantungkan harga dirinya pada domain tertentu—termasuk hubungan asmara.
Orang dengan RCSE tinggi cenderung berpikir seperti:
- “Kalau pasangan bahagia sama aku, berarti aku berharga.”
- “Kalau hubungan ini gagal, berarti aku gagal sebagai manusia.”
Masalahnya, hubungan romantis itu dinamis dan penuh ketidakpastian. Kalau harga diri sepenuhnya ditaruh di sana, kondisi emosional jadi sangat rapuh.
Kenapa Banyak Orang Mengalaminya?
RCSE nggak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor psikologis yang sering jadi latar belakangnya:
- Attachment style tidak aman
Individu dengan anxious attachment lebih rentan menggantungkan harga diri pada pasangan karena takut ditinggalkan. - Pengalaman relasi masa lalu
Pernah ditolak, diabaikan, atau mengalami hubungan yang tidak sehat bisa membuat seseorang mencari validasi terus-menerus dari pasangan. - Kurangnya sumber identitas lain
Saat hidup hanya berpusat pada satu peran—sebagai pasangan—maka hubungan menjadi satu-satunya cermin nilai diri.
Di era digital, faktor ini makin diperkuat oleh media sosial. Like, story, dan status hubungan sering kali jadi tolok ukur tidak resmi tentang “seberapa layak” seseorang dicintai.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan