Phubbing sering disalahartikan sebagai tanda tidak peduli. Padahal, faktor penyebabnya cukup kompleks. Mulai dari kebiasaan multitasking digital, FOMO (fear of missing out), tuntutan pekerjaan, sampai pelarian dari percakapan yang dirasa tidak nyaman.

Media sosial dan aplikasi pesan dirancang untuk terus menarik perhatian kita. Notifikasi kecil saja sudah cukup memicu respons instan dari otak. Tanpa sadar, kita memilih dopamin cepat dari layar dibanding interaksi yang butuh usaha emosional.

Cara Mengatasi Phubbing dan Membangun Quality Time yang Nyata

Kabar baiknya, phubbing bukan masalah yang nggak bisa diperbaiki. Berikut beberapa langkah realistis yang bisa dicoba bersama pasangan:

1. Sadari dan Akui Polanya

Langkah pertama selalu kesadaran. Coba refleksi, seberapa sering kamu membuka ponsel saat sedang bersama pasangan? Mengakui kebiasaan ini bukan tanda kalah, tapi tanda peduli.

2. Komunikasi Tanpa Menyalahkan

Bicarakan perasaanmu dengan jujur, tapi tanpa nada menyerang. Gunakan kalimat seperti, “Aku ngerasa kurang didengerin kalau kamu main HP pas aku cerita.” Fokus pada perasaan, bukan tuduhan.

3. Buat Aturan Digital Bareng

Sepakati waktu-waktu tertentu sebagai zona bebas gadget, misalnya saat makan malam, sebelum tidur, atau quality time mingguan. Aturan ini akan lebih efektif kalau disepakati bersama, bukan dipaksakan sepihak.

4. Hadir Sepenuhnya, Walau Sebentar

Quality time nggak harus lama. Bahkan 15–30 menit tanpa distraksi, dengan perhatian penuh, jauh lebih bermakna daripada berjam-jam bersama tapi sibuk dengan layar masing-masing.

5. Jadikan Teknologi sebagai Pendukung, Bukan Pengganggu

Alih-alih jadi sumber konflik, teknologi bisa dipakai untuk mempererat hubungan—misalnya dengan saling berbagi playlist, nonton bareng, atau mengatur jadwal kencan.

Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya nyata. Hubungan yang sehat nggak hanya butuh cinta, tapi juga kehadiran emosional yang konsisten. Layar bisa menunggu, notifikasi bisa dibalas nanti, tapi perasaan pasangan yang terabaikan bisa meninggalkan luka lebih lama.

Ananditha Nursyifa
Editor