Dalam konteks hubungan romantis, ini bisa muncul dalam berbagai bentuk: scrolling media sosial saat makan bareng, balas chat lain ketika pasangan sedang bicara, atau lebih sibuk dengan notifikasi dibanding ekspresi wajah orang di depan kita.
Menurut berbagai riset psikologi relasi terbaru hingga 2026, phubbing bukan cuma soal kurang sopan, tapi juga berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia akan perhatian, validasi, dan koneksi emosional. Ketika pasangan merasa “dikalahkan” oleh layar, otak memaknainya sebagai bentuk penolakan sosial—meskipun niatnya mungkin tidak seburuk itu.
Dampak Psikologis Phubbing: Luka yang Nggak Kelihatan
1. Menurunnya Keintiman Emosional
Keintiman emosional dibangun lewat kehadiran penuh—kontak mata, respons empatik, dan rasa didengarkan. Phubbing memotong semua itu. Lama-lama, pasangan yang sering di-phubbing akan berhenti berbagi cerita karena merasa percuma. Hubungan pun jadi terasa hambar, datar, dan lebih seperti rutinitas.
2. Merusak Kepercayaan
Mungkin terdengar berlebihan, tapi phubbing bisa menggerus kepercayaan. Kenapa? Karena perhatian adalah mata uang penting dalam hubungan. Saat pasangan merasa kamu lebih tertarik pada layar daripada dirinya, muncul pertanyaan: “Aku masih penting nggak, sih?” Dari sini, rasa curiga, insecure, bahkan kecemburuan bisa tumbuh.
3. Muncul Rasa Tidak Dihargai dan Kesepian
Ironisnya, phubbing bisa membuat seseorang merasa kesepian meski sedang bersama pasangan. Beberapa studi psikologi hubungan menunjukkan bahwa pasangan yang sering mengalami phubbing cenderung melaporkan kepuasan hubungan yang lebih rendah, meningkatnya konflik kecil, hingga risiko stres emosional.
4. Efek Domino ke Kesehatan Mental
Perasaan tidak dihargai secara terus-menerus bisa berdampak pada harga diri. Dalam jangka panjang, ini berpotensi memicu kecemasan, mood negatif, dan bahkan gejala depresi ringan, terutama jika tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan