Kesehatan Mental dan Peran Keluarga

Ledia turut menekankan bahwa penanganan persoalan perundungan perlu memperhatikan kesehatan mental siswa. Menurut materi yang disampaikan dalam kegiatan, kesehatan mental peserta didik merupakan salah satu perhatian yang perlu menjadi prioritas bersama.
Persoalan lain yang disoroti adalah tuntutan orang tua terhadap pencapaian akademik anak yang terkadang belum berjalan seimbang dengan perhatian terhadap perkembangan empati. Karena itu, membangun kesadaran untuk menciptakan sekolah yang aman dan peduli menjadi bagian penting dari tanggung jawab bersama.
Pembahasan dalam sesi psikologi juga menunjukkan bahwa dinamika perundungan pada jenjang SMP dapat menjadi lebih kompleks. Persoalan dapat berkaitan dengan relasi pertemanan, konsep diri, media sosial, serta dinamika kekuasaan dalam kelompok sebaya. Pengaruh media sosial juga menjadi perhatian karena dapat menjadi sumber berbagai bentuk interaksi negatif antarsiswa.
Dengan demikian, pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan hanya melalui respons ketika kasus terjadi. Penguatan budaya sekolah, deteksi dini, edukasi, pendampingan psikologis, serta komunikasi antara sekolah dan keluarga menjadi bagian yang saling berkaitan.
Bagi sekolah di Bandung dan Cimahi, pengalaman yang disampaikan para guru BK dan kepala sekolah dalam workshop menunjukkan bahwa penanganan kasus telah diupayakan meskipun masih terdapat keterbatasan sumber daya dan tantangan dalam membangun kerja sama dengan orang tua.
Sementara itu, dari sisi kebijakan, pemerintah melalui BSAN mendorong agar sekolah bergerak dari pendekatan yang semata-mata reaktif menuju upaya yang lebih preventif dan kolaboratif. Penguatan tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan rasa aman dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. (dit)



Tinggalkan Balasan