Penelitian terbaru menunjukkan bahwa individu yang mampu menunda kepuasan (delay of gratification) memiliki kesehatan mental lebih stabil dan pencapaian hidup lebih baik.

Kalau dipikir-pikir, puasa adalah praktik delay of gratification paling nyata. Kita menunda makan, minum, bahkan respons emosional.

Latihan ini memperkuat:

  • Frustration tolerance
  • Impulse control
  • Emotional endurance

Semua komponen ini adalah fondasi resiliensi. Jadi, setiap kali kita berhasil menahan emosi saat puasa, sebenarnya kita sedang memperkuat “otot mental” kita.

Praktik Membangun Resiliensi ala Psikologi Islam di Bulan Ramadhan

Teori tanpa praktik tentu kurang lengkap. Berikut beberapa cara konkret membangun resiliensi melalui konsep sabar selama Ramadhan:

1. Latihan Regulasi Emosi

Saat emosi naik, tarik napas dalam dan ingat tujuan puasa. Beri jeda sebelum merespons. Ini melatih prefrontal cortex untuk mengendalikan impuls.

2. Cognitive Reframing Spiritual

Ubah sudut pandang terhadap masalah. Alih-alih berkata “Kenapa aku diuji?” coba ganti menjadi “Apa yang bisa aku pelajari dari ini?”

3. Perbanyak Dzikir dan Mindfulness

Dzikir membantu menenangkan sistem saraf. Praktik ini mirip dengan mindfulness dalam psikologi modern.

4. Bangun Dukungan Sosial

Resiliensi tidak dibangun sendirian. Buka puasa bersama, diskusi keagamaan, atau sekadar berbagi cerita bisa meningkatkan rasa keterhubungan.

5. Refleksi Harian

Luangkan waktu sebelum tidur untuk evaluasi diri. Apa momen tersulit hari ini? Bagaimana kamu menghadapinya? Ini memperkuat self-awareness.

Jadikan Ramadhan sebagai Laboratorium Ketahanan Mental

Konsep sabar dan resiliensi dalam Psikologi Islam bukan sekadar teori religius. Ia adalah strategi kesehatan mental yang sangat relevan di era modern.

Ananditha Nursyifa
Editor