Saat berpuasa, tubuh kita mengalami perubahan biologis. Produksi gula darah turun, pola tidur berubah, energi fluktuatif. Kondisi ini bisa membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi atau merasa lelah secara psikologis.
Namun justru di sinilah latihan sabar bekerja.
Dalam Psikologi Islam, Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tapi juga proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Menahan lapar dan haus menjadi simbol pengendalian impuls. Secara psikologis, ini berkaitan dengan self-regulation—kemampuan mengatur emosi dan perilaku.
Menariknya, riset psikologi modern tahun-tahun terakhir (hingga 2026) menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi. Artinya, latihan sabar selama Ramadhan sebenarnya adalah latihan membangun ketahanan mental.
Makna Sabar dalam Al-Qur’an: Bukan Pasrah, Tapi Aktif Bertahan
Dalam Al-Qur’an, kata “sabar” disebut lebih dari 90 kali dalam berbagai bentuk. Ini menunjukkan bahwa sabar adalah konsep sentral dalam ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan