Data Anak Putus Sekolah di Bandung Direvisi, Kini Tersisa 7.800 Kasus

Kota Bandung, Prolite Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron menyampaikan ada data tidak valid pada pendataan terkait anak putus sekolah. Namun angka terbaru itu masih bersifat sementara karena proses verifikasi by name by address masih terus berjalan di seluruh wilayah.

Asep menyebutkan jumlah anak putus sekolah di Kota Bandung mengalami penurunan signifikan setelah Dinas Pendidikan (Disdik) melakukan verifikasi ulang data. Data awal yang bersumber dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) mencatat sekitar 22 ribu anak putus sekolah di Bandung. Setelah dilakukan penyaringan tahap pertama, jumlahnya turun menjadi 11 ribu kasus, lalu kembali menyusut menjadi sekitar 7.800 anak.

“Saat proses verifikasi, kami menemukan sekitar 1.600 data ternyata bukan warga Kota Bandung. Mereka berasal dari daerah lain seperti Cimahi hingga Garut, tetapi masih tercatat dalam basis data,” kata Asep, Selasa 28 April 2026).

Selain itu, Disdik juga menemukan sejumlah kejanggalan lain. Beberapa nama yang tercatat sebagai anak putus sekolah ternyata berusia di atas 40 tahun, sehingga tidak lagi masuk kategori usia sekolah.

Saat ini, Disdik memfokuskan pendataan pada kelompok usia 7 hingga 18 tahun, yakni rentang usia wajib belajar dari tingkat SD sampai SMA. Verifikasi dilakukan bertahap melalui koordinasi dengan camat dan aparat kewilayahan di 30 kecamatan Kota Bandung.

“Angka 7.800 ini masih bisa berubah. Kami menargetkan data final yang lebih akurat sebelum diserahkan kembali ke Pusdatin sebagai dasar pembaruan data nasional,” katanya.

Di tengah proses validasi, Disdik tetap menjalankan intervensi pendidikan bagi anak yang terlanjur putus sekolah melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.

Program tersebut memungkinkan anak tetap memperoleh hak pendidikan dan ijazah meski tidak mengikuti jalur sekolah formal. Kegiatan belajar dilaksanakan di tingkat kecamatan dengan dukungan tutor.

Selain jalur nonformal, Disdik juga membuka kesempatan bagi anak untuk kembali ke sekolah formal melalui program pendidikan gratis Pemkot Bandung.

Asep mengungkapkan, penyebab anak putus sekolah di Bandung cukup beragam, mulai dari faktor ekonomi hingga memilih bekerja di sektor informal seperti parkir dan pasar. Selain itu juga ada faktor perilaku dimana si anak enggan sekolah karena kecanduan gawai sehingga minat belajarnya menurun.

Untuk menekan angka putus sekolah, Pemkot Bandung menggencarkan pendekatan langsung kepada keluarga melalui perangkat kewilayahan, termasuk RT dan RW, serta edukasi kepada orang tua agar anak tetap bersekolah.

Ananditha Nursyifa
Editor