Sejarah Panjang yang Melintas Zaman dan Kerajaan

Sejarah Tari Topeng Cirebon bukan dimulai di Cirebon melainkan jauh sebelumnya, di era Kerajaan Majapahit pada abad ke-12. Relief candi Majapahit dan lontar kuno membuktikan bahwa topeng sudah digunakan dalam ritual sejak zaman Hindu-Buddha, sebelum kemudian berevolusi seiring masuknya Islam di pesisir Jawa.

Dari Majapahit, tradisi ini menyebar ke Jawa Tengah melalui pengaruh Kerajaan Demak, membawa serta bahasa Jawa lama dan motif wayang. Dari Demak, tarian ini akhirnya sampai ke Keraton Cirebon dan Banten bahkan berita Belanda mencatat pertunjukan tari topeng di istana Banten, membuktikan betapa berpengaruhnya seni ini di kalangan elite kerajaan pesisir.

Di Cirebon, peranan tari topeng mencapai puncak pentingnya ketika Sunan Gunung Jati, tokoh penyebar Islam terbesar di Jawa Barat, memilih kesenian ini sebagai media dakwah. Pada tahun 1479, saat Kesultanan Cirebon diserang oleh Pangeran Welang dari Karawang yang terkenal sangat sakti, Sunan Gunung Jati memilih jalan diplomasi.

Nyi Mas Gandasari dan kelompoknya tampil membawakan tari topeng dan Pangeran Welang pun jatuh hati. Ia menyerahkan pusaka Curug Sewu, menikah, dan memeluk Islam. Seni menyelamatkan sebuah kerajaan!

Setelah itu, tari topeng yang semula eksklusif milik keraton perlahan menyebar ke rakyat jelata, berkembang menjadi kesenian pedesaan yang hidup dan dinamis. Di era 1970-an, dengan dukungan sultan, tari ini mulai keluar ke ruang publik melalui festival dan sanggar seni dan sejak saat itu, perjalanannya terus ke panggung-panggung dunia.

Ananditha Nursyifa
Editor