Seperti Apa Splitting dalam Kehidupan Sehari-hari?
Splitting tidak selalu terlihat dramatis. Ia bisa muncul dalam bentuk yang sangat halus namun berdampak besar:
Dalam hubungan: Kamu menganggap seseorang sebagai teman sempurna — tapi begitu ia membuat satu kesalahan kecil, pandanganmu langsung berubah drastis dan ia menjadi “musuh.” Tidak ada ruang untuk “dia mungkin sedang punya hari yang buruk.”
Terhadap diri sendiri: Satu kesalahan di tempat kerja langsung membuatmu menyimpulkan: “Aku memang nggak punya kemampuan apa-apa.” Tidak ada narasi tengah seperti: “Aku membuat kesalahan ini, tapi secara keseluruhan aku masih kompeten.”
Dalam pengambilan keputusan: Kalau kamu tidak bisa melakukannya dengan sempurna, lebih baik tidak melakukannya sama sekali. Standar yang ekstrem ini sering kali menjadi penghalang terbesar dari kemajuan nyata.
Splitting dan Kesehatan Mental: Lebih dari Sekadar “Sikap Negatif”
Penting untuk dipahami bahwa meskipun splitting adalah mekanisme yang bisa dialami siapa saja dalam situasi tertentu, ia paling sering dan paling intens dikaitkan dengan Borderline Personality Disorder (BPD).
BPD memengaruhi sekitar 2,4% dari populasi umum. Splitting adalah ketidakmampuan untuk menyimpan dua perasaan yang berlawanan tentang orang yang sama secara bersamaan — sementara kebanyakan orang bisa mengenali bahwa seseorang yang mereka cintai juga bisa membuat frustrasi atau menyakitkan.
Penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Psychology (September 2025) menemukan bahwa splitting, bersama pemikiran dikotomis dan proyeksi, merupakan mekanisme pertahanan yang membantu menjelaskan bagaimana patologi kepribadian berkontribusi pada perilaku yang melukai diri sendiri. Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak splitting ketika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan