Bagaimana Splitting Terjadi? Otak yang “Belajar” Melindungi Diri

Untuk memahami splitting, kita perlu mundur sejenak ke masa kecil.

Splitting sering kali berasal dari pengalaman masa kecil, terutama ketika pengasuh tidak konsisten, tidak bisa diprediksi, atau menunjukkan emosi yang ekstrem. Sebagai mekanisme coping, anak-anak mungkin mengembangkan pemikiran hitam-putih ini untuk menyederhanakan dunia mereka dan mengelola emosi yang membebani.

Bayangkan seorang anak kecil yang tumbuh dengan orang tua yang tidak konsisten — kadang sangat penuh kasih, kadang dingin dan menolak. Otak anak yang masih berkembang tidak bisa memproses kedua kenyataan ini secara bersamaan. Jadi ia melakukan sesuatu yang — pada saat itu — sangat logis: memisahkan. Versi baik orang tua itu adalah satu entitas, versi buruknya adalah entitas lain. Tidak ada yang bisa dicampur.

Ini adalah mekanisme pertahanan yang cerdas untuk seorang anak. Masalahnya muncul ketika pola itu terbawa ke kehidupan dewasa — dan otak terus menggunakan “shortcut” yang sama untuk situasi yang jauh lebih kompleks.

Dari sudut pandang neurobiologis, penelitian terbaru menjelaskan mekanismenya dengan sangat jelas. Studi neuroimaging mengungkapkan ketidakseimbangan spesifik yang mendorong pola ini: pusat deteksi ancaman di otak (amigdala) terlalu aktif, membuat seseorang lebih reaktif terhadap rangsangan emosional.

Sementara itu, prefrontal cortex — bagian yang bertanggung jawab mengatur respons emosional — kurang aktif. Ini berarti “sistem alarm” berbunyi lebih keras dari normal sementara “sistem pengereman” bekerja kurang efektif.

Ananditha Nursyifa
Editor