Akibatnya, kata dia, kondisi riil ekonomi warga berpotensi tidak tergambarkan secara tepat.
“Penentuan desil bukan hasil wawancara per keluarga, tapi sampling,” ungkapnya.
Uung juga menemukan sejumlah kasus perubahan desil yang dinilai tidak masuk akal. Bahkan, perubahan data administrasi seperti pergantian kartu keluarga (KK) disebut dapat membuat posisi desil warga berubah drastis.
“Ada yang ganti KK, desilnya bisa berubah dari satu ke sembilan. Padahal orangnya pengangguran,” katanya.
Selain itu, Uung menyoroti adanya faktor-faktor yang dinilai tidak semestinya menjadi indikator utama kondisi ekonomi keluarga. Ia mencontohkan warga yang tercatat memiliki persoalan judi online atau kredit kendaraan bermotor, tetapi kemudian mengalami perubahan desil.
“Ada yang terlibat judol dan bermasalah kredit motor jadi berubah desil,” ujarnya.
Persoalan lain muncul saat proses survei di lapangan. Uung mendapat laporan adanya warga yang kondisi ekonominya dinilai berdasarkan temuan sesaat ketika petugas melakukan pendataan.



Tinggalkan Balasan