Rasdian menyadari dan tidak ingin proses pembangunan BRT ini menimbulkan persoalan sosial baru di lapangan. Karena itu, pendekatan kepada masyarakat dan para pelaku usaha di sekitar lokasi proyek akan dilakukan secara bertahap.
“Harus dibahas lagi lebih lanjut dan perlu sosialisasi lebih intens, karena disana banyak aktifitas ekonomi dan pelanggannya kan penumpang,” katanya.
Masih kata Rasdian, pada pembahasan kali ini pun Pemkot Bandung menyiapkan beberapa alternatif solusi bagi para pedagang dan penyewa kios yang terdampak pembangunan proyek tersebut. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah relokasi ke terminal-terminal tipe C yang dimiliki Kota Bandung.
Kota Bandung memiliki 11 terminal yang tersebar dari barat, timur, utara hingga selatan. Terminal-terminal tersebut dinilai berpotensi bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penataan bagi pedagang atau masyarakat terdampak. Selain itu pembangunan kios pun berpeluang mendapat dukungan pendanaan dari pihak lain, termasuk World Bank.




Tinggalkan Balasan