Secara psikologis, solo traveling sering dikaitkan dengan kebutuhan akan otonomi dan kontrol diri. Menurut berbagai studi psikologi perjalanan, bepergian sendiri memberi rasa kebebasan dan self-efficacy—perasaan mampu mengatur hidup dan mengambil keputusan sendiri.
Banyak orang juga memilih solo traveling sebagai bentuk self-care. Saat liburan rame-rame, kita sering tetap “sibuk”: menyesuaikan jadwal orang lain, menjaga mood kelompok, atau merasa nggak enak kalau punya keinginan berbeda. Liburan sendiri memotong semua beban itu. Kamu mau bangun siang, berubah rencana mendadak, atau diam berjam-jam di kafe? Bebas.
Dari sisi praktis, solo traveling justru sering lebih fleksibel dan hemat. Lebih mudah cari tiket, penginapan, atau transportasi untuk satu orang. Kamu juga bisa lebih spontan tanpa harus diskusi panjang. Buat banyak orang, ini jadi solusi liburan singkat di sela jadwal kerja yang padat.
Destinasi Aman untuk Solo Traveler
Keamanan tentu jadi pertimbangan utama saat liburan sendirian. Kabar baiknya, makin banyak destinasi yang ramah solo traveler, baik di dalam maupun luar negeri.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan