“Ekosistem perfilman harus punya satu syarat utama, yaitu pelaku. Tanpa pelaku, ekosistem ini akan ambruk. Percuma kita punya investor, percuma kita punya penonton kalau pelakunya tidak ada,” ujar Farhan.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan pada malam tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada mereka yang telah mencapai pencapaian terbaik. Namun, apresiasi tertinggi tetap layak diberikan kepada para insan yang konsisten berkarya dalam dunia perfilman Indonesia.
Farhan juga menilai Kota Bandung memiliki hubungan panjang dengan perkembangan perfilman nasional. Sejumlah karya dan tokoh perfilman memiliki keterkaitan dengan Bandung, mulai dari sejarah Lutung Kasarung, Lewat Tengah Malam, hingga Gadis Marathon.
“Film hadir menjadi jendela bagi sebuah bangsa,” katanya.

Ia menyebut film tidak hanya menjadi medium untuk menampilkan cerita, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai cabang seni dan kreativitas. Dalam konteks Bandung, perkembangan film tidak terlepas dari ekosistem seni dan kreatif yang tumbuh melalui desain, seni rupa, musik, teater, tari, hingga teknologi.



Tinggalkan Balasan