Jadikan Agama sebagai Tempat Bersandar, Bukan Beban Tambahan
Ketika hidup sedang kacau, ibadah bisa menjadi ruang untuk berhenti sejenak. Salat, doa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sekadar berbicara kepada Allah dalam doa dapat menjadi cara seseorang mencari makna dan ketenangan.
Dalam psikologi, konsep ini dapat dikaitkan dengan religious coping, yaitu bagaimana keyakinan dan praktik keagamaan digunakan seseorang untuk menghadapi tekanan kehidupan.
Sebuah systematic review dan meta-analysis menemukan adanya hubungan antara positive religious coping dengan flourishing atau kesejahteraan psikologis. Namun, penelitian juga membedakan coping religius yang positif dan negatif. Coping religius yang negatif—misalnya merasa ditinggalkan atau terus-menerus menyalahkan Tuhan—dapat berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih buruk.
Karena itu, jangan sampai masalah membuat kita berpikir, “Aku sedang mengalami ini karena Allah membenciku.”
Sebaliknya, kita bisa mencoba mengubah pertanyaan menjadi, “Apa yang bisa aku pelajari dari keadaan ini, dan langkah baik apa yang masih bisa aku lakukan?”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan