Sampai tahun 2026, hypophrenia belum diakui sebagai diagnosis resmi dalam DSM-5-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) maupun ICD-11 (klasifikasi gangguan mental dari WHO). Artinya, istilah ini bukan kategori medis atau gangguan psikologis formal.
Secara etimologis, kata ini tampaknya berasal dari gabungan “hypo” (rendah) dan “phren” (pikiran atau jiwa). Di internet, hypophrenia biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi sedih yang terasa dalam, tenang, tidak meledak-ledak, tapi juga tidak sepenuhnya bisa dijelaskan penyebabnya.
Mengapa istilah ini berkembang?
Ada beberapa faktor:
- Generasi muda semakin terbuka membicarakan kesehatan mental.
- Media sosial mempermudah lahirnya istilah emosional baru.
- Banyak orang merasa tidak sepenuhnya cocok dengan label “depresi”, tapi tetap ingin memvalidasi perasaannya.
Fenomena ini disebut oleh para psikolog sebagai “pop-psychology labeling”—munculnya istilah non-klinis untuk membantu orang memahami pengalaman emosional mereka.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan