Pertama, pelaku cenderung memiliki kebutuhan kuat untuk mengontrol dan mendominasi. Anak dipilih karena berada dalam posisi rentan, minim pengalaman, dan lebih mudah dimanipulasi secara emosional.

Kedua, grooming sering berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan. Pelaku bisa saja berstatus guru, pembina, tokoh agama, senior, atau figur yang dianggap aman dan terpercaya. Relasi kuasa inilah yang membuat korban sulit menolak atau melapor.

Ketiga, beberapa pelaku memiliki distorsi kognitif, seperti membenarkan perilaku mereka dengan dalih “saling suka” atau “tidak menyakiti siapa pun”. Distorsi ini berbahaya karena mengaburkan fakta bahwa anak tidak pernah berada pada posisi setara untuk memberikan persetujuan.

Dampak Psikologis Child Grooming pada Anak

Dampak child grooming tidak berhenti ketika relasi tersebut terputus. Banyak korban membawa luka psikologis hingga dewasa.

Anak yang mengalami grooming berisiko mengalami kecemasan, depresi, rasa bersalah berlebihan, dan kebingungan identitas. Mereka sering menyalahkan diri sendiri karena merasa “ikut terlibat”, padahal seluruh proses dikendalikan oleh pelaku.

Ananditha Nursyifa
Editor