Lebih lanjut, KDS mengungkapkan bahwa program MBG memiliki dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Di Kabupaten Bandung, potensi serapan anggaran program ini bahkan mencapai Rp5,4 triliun, dengan nilai perputaran ekonomi bersih di masyarakat sekitar Rp3,7 triliun setelah dikurangi biaya operasional.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian inflasi seiring meningkatnya kebutuhan pangan.
“Kebutuhan protein seperti telur di Kabupaten Bandung bisa mencapai 1.000 ton per bulan. Sementara kondisi peternakan di kami berbeda dengan daerah lain seperti Jawa Tengah atau Jawa Timur. Artinya, perlu kerja sama antardaerah untuk saling melengkapi kebutuhan pangan,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, KDS menegaskan bahwa produksi beras Kabupaten Bandung yang mencapai 328.000 ton per tahun masih mampu memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, untuk komoditas lain seperti sayur mayur, pihaknya masih membutuhkan dukungan dari daerah lain.




Tinggalkan Balasan