Perlu digarisbawahi, ragu itu normal. Otak manusia memang dirancang untuk mempertimbangkan risiko sebelum bertindak. Tapi ketika keraguan menjadi pola yang konsisten dan menghambat kehidupan sehari-hari, di situlah ia berubah menjadi kecenderungan kronis.
Beberapa studi terbaru dalam bidang psikologi kognitif (2024–2026) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat indecisiveness tinggi cenderung memiliki aktivitas berlebih pada area otak yang terkait dengan evaluasi risiko dan rasa takut terhadap kesalahan. Artinya, otak mereka terus “mengulang simulasi” kemungkinan buruk sebelum memutuskan.
Ragu yang Normal vs Ragu yang Kronis
Ragu normal biasanya:
- Muncul pada keputusan besar
- Hilang setelah informasi cukup terkumpul
- Tidak terlalu mengganggu fungsi sehari-hari
Sedangkan kecenderungan kronis ditandai dengan:
- Bahkan keputusan kecil terasa berat
- Sering meminta validasi berlebihan dari orang lain
- Menunda keputusan sampai batas waktu habis
- Merasa menyesal berlebihan setelah memilih
Kalau kamu merasa pola ini terjadi terus-menerus, bisa jadi itu bukan sekadar “sifat hati-hati”, tapi ada faktor psikologis yang lebih dalam.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan