Mengapa Bisbul Mulai Langka dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sayangnya, di balik semua keistimewaan itu, bisbul kini termasuk tanaman yang semakin langka dan sulit ditemukan — bahkan di kota asalnya sendiri, Bogor. Di pasar tradisional pun keberadaannya sudah jarang terdeteksi, apalagi di supermarket modern.
Penyebabnya cukup klasik: alih fungsi lahan, minimnya minat budidaya, dan kurangnya perhatian terhadap pelestarian buah-buah lokal yang kalah populer dibanding buah impor. Pohon bisbul yang ada saat ini kebanyakan adalah pohon tua yang tidak diregenerasi — dan tanpa upaya aktif, generasi buah lokal seperti ini bisa benar-benar punah dalam beberapa dekade.
Padahal, bisbul punya potensi budidaya yang sangat menjanjikan. Pohonnya bisa tumbuh di dataran rendah hingga menengah (0–800 mdpl), tahan terhadap berbagai jenis tanah, bahkan tahan terhadap angin kencang. Yang lebih menakjubkan lagi: pohon bisbul berbuah sepanjang tahun — bukan musiman seperti kebanyakan buah tropis lain. Ini menjadikannya komoditas yang sangat potensial jika dibudidayakan dengan serius.
Langkah pelestarian bisa dimulai dari hal yang kecil: menanam pohon bisbul di pekarangan rumah, mengenalkannya kepada anak-anak dan generasi muda, atau sekadar membelinya dari pedagang lokal yang masih menjualnya. Kebun Raya Bogor sendiri masih menjaga koleksi tanaman bisbul sebagai bagian dari upaya konservasi botani.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan