Pertama, budaya perfeksionisme. Di era media sosial, kita sering melihat orang lain tampak sangat produktif, disiplin, dan seolah menjalani puasa dengan sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan standar tersebut.
Kedua, pola asuh sejak kecil. Sebagian orang tumbuh dengan pola pendidikan yang sangat menekankan kesalahan dan kritik, sehingga terbiasa menghakimi diri sendiri ketika melakukan kesalahan.
Ketiga, keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ironisnya, niat baik ini justru bisa berubah menjadi tekanan mental jika tidak diimbangi dengan penerimaan diri.
Penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa self-criticism yang berlebihan justru dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Praktik Self-Compassion Sehari-hari Selama Puasa
Menerapkan self-compassion sebenarnya tidak harus rumit. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari selama bulan puasa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan