Kolaborasi Plataran Bandung dengan Batik Komar Bertema “Puspa Ragam Batik Komar: Setiap Kain adalah Jejak Perjalanan Kreativitas”
Prolite – Bandung kembali menjadi ruang bagi pertemuan antara tradisi, inovasi dan semangat kolaborasi dalam dunia wastra nusantara. Pada tanggal 11 April 2026, Plataran Bandung bersama Batik Komar menyelenggarakan sebuah agenda kolaboratif bertajuk “Puspa Ragam Batik Komar: Setiap Kain adalah Jejak Perjalanan Kreativitas”.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang spresiasi terhadap karya batik, tetapi juga menjadi wadah edukasipublik mengenai nilai, kualitas, serta legitimasi batik tulis sebagai warisan budaya yang terus berkembang.
Dalam kegiatan ini, Dr. Komarudin Kudia, S.IP.,M. Ds, selaku pemilik batik Komar, menjadi narasumber utama melalui sesi bedah buku yang mengupas secara mendalam tentang kualitas, filosofi, serta reputasi Batik Tulis Merawit dan Batik Tulis Megamendung Cirebon.
Kedua jenis batik ini telah mendapatkan pengakuan resmi melalui sertivikat Indikasi Geografis (IG), yang menjadi bukti kuat atas keasliannya, kualitas, serta karakteristik khas yang tidak terbantahkan.

Batik Tulis Merawit Cirebon telah memperoleh sertivikat Indikasi Geografis pada bulan November 2024 dengan No IDG000000172. Sementara itu, Batik Tulis Waleran Megamendung Cirebon menyusul dengan diterbitkannya sertivikat IG pada 26 Juni 2025 dengan No IDG 000000221.
Sertivikat ini dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia sebagai otoritas resmi yang berwenang dalam perlindungan kekayaan intelektual komunal, termasuk indikasi geografis.
Melaui sesi bedah buku ini, Dr. Komarudin Kudia akan menjelaskan bahwa batik tidak sekedar produk tekstil, melainkan representasi dari pengetahuan lokal, keterampilan turun- temurun, serta nilai budaya yang melekat kuat pada komunitas perajinnya.

Batik Tulis Merawit dikenal dengan Teknik garis halus yang rumit dan presisi tinggi, sedangkan Batik Tulis Waleran Megamendung memiliki karakter visual yang kuat dengan filosofi mendalam tentang kesabaran, keteduhan, dan kebijaksanaan.
Slah satu fokus utama dalam acara ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai apa itu Indikasi Geografis (IG) dan manfaatnya.
Selama ini, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya sertivikat IG dalam menjaga kualitas dan keaslian produk lokal. Indikasi Gografis adalah tanda yang menunjukan daerah asal suatu produk yang karena faktor lingkungan Geografis – baik faktor alam, manusia, maupun kombinasi keduanya memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik khas tertentu.
Dengan adanya sertifikat IG, produk batik tidak hanya mendapatkan perlindungan hukum, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi bagi para perajin. Sertivikat ini memastikan bahwa hanya produk yang memunihi standar tertentu yang dapat menggunakan nama tersebut sehingga mencegah pemalsuan dan menjaga reputasi produk dipasar Nasional maupun Internasional.
Saat ini Indonesia baru terdapat sejumlah produk batik yang telah memperoleh sertivikasi Indikasi Geografis, diantara Batuk Tulis Nitik Yogyakarta, Batik Tulis Complongan Indramayu, Batik Besurek Begkulu, sarung batik Pekalongan, Batik Gedog Tuban, Batik Tulis Merawit Cirebon, Batik Tulis Waleran Cirebon, Batik Wonogiri, serta beberapa lainnya yang sedang dalam proses pengajuan.
Hal ini menunjukan bahwa upaya perlindungan dan pengakuan terhadap batik sebagai warisan budaya masih terus berkembang dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
Kolaborasi antara Plataran Bandung dan Batik Komar ini menjadi langkah strategis dalam memperluas literasi publik mengenai pentingnya pelestarian batik berbasis kwalitas keaslian. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan terlibat dalam pengembangan Batik sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Tema “Setiap Kain Adalah Jejak Perjalanan Kreativitas” menjadi refleksi bahwa setiap lembat batik tidak hanya menggunakan motif visual, tetapi juga menyimpan proses panjang mulai dari ide, Teknik, hingga nilai filosofi yang melekat didalamnya.
Batik bukan hanya karyaseni, melainkan perjalanan batin, expresi budaya, dan jejak kreativitas yang hidup dari masa kemasa.
Melalui acara ini, Batik Komar menegaskan komitmennya yang terus menjaga kualitas, memperkuat identitas batik berbasis Indikasi Geografis, serta mendorong peningkatan nilai ekonomi perajin melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif.
Sementara itu Plataran Bandung sebagai ruang kreatif turut berperan sebagai jembatan antara pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem wastra Nusantara.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keaslian Batik Inodnesia. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, batik tidak akan hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan budaya dan ekonomi di tingkat global.



Tinggalkan Balasan