Teror ‘Songko’ Bangkit dari Minahasa! Film Horor Lokal yang Siap Menghantui Bioskop April 2026
Prolite – Kembali lagi di edisi malam Jumat. Saat yang paling pas untuk membahas kisah-kisah horor yang bukan hanya menyeramkan, tapi juga menyimpan cerita budaya yang dalam dan kadang terasa terlalu dekat dengan kenyataan.
Di tahun 2026, industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film horor yang tidak sekadar mengandalkan jumpscare, tetapi juga menggali akar cerita dari legenda lokal. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah film berjudul “Songko”.
Film ini datang dari kolaborasi Dunia Mencekam Studio dan Rumah Produksi Santara, dan langsung mencuri perhatian karena mengangkat legenda dari Minahasa, Sulawesi Utara—wilayah yang dikenal memiliki banyak kisah mistis yang belum banyak tereksplorasi di layar lebar.
Dengan latar desa, nuansa tahun 1980-an, serta cerita yang penuh kecurigaan dan ketakutan, “Songko” siap menghadirkan pengalaman horor yang berbeda.
Debut Sutradara dengan Sentuhan Cerita Lokal
Film “Songko” menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar. Sebelumnya, ia dikenal sebagai penulis skenario di sejumlah film horor populer Indonesia.
Melalui film ini, Gerald mencoba membawa pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya ingin menakut-nakuti penonton, tetapi juga menghadirkan cerita yang terasa autentik.
Menurutnya, “Songko” adalah kisah yang sangat dekat dengan masyarakat Minahasa. Itulah sebabnya film ini dibangun dengan pendekatan yang kuat terhadap budaya lokal.
Pendekatan ini sejalan dengan tren perfilman 2026 yang mulai mengarah pada “hyperlocal storytelling”, yaitu menggali cerita dari daerah tertentu dengan tetap mempertahankan keaslian budaya.
Sinopsis: Desa yang Dihantui dan Dihancurkan oleh Ketakutan
Cerita “Songko” berlatar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa. Awalnya, kehidupan desa berjalan normal. Namun perlahan, suasana berubah ketika satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan. Tidak ada penjelasan logis yang bisa menjawab kejadian tersebut.
Warga mulai percaya bahwa desa mereka sedang dihantui oleh makhluk misterius bernama Songko—entitas yang dipercaya mengincar darah suci perempuan muda demi memperoleh kekekalan. Ketakutan pun menyebar.
Namun yang lebih mengerikan bukan hanya kematian itu sendiri, melainkan bagaimana rasa takut berubah menjadi kecurigaan. Tuduhan mulai bermunculan. Hingga akhirnya mengarah kepada keluarga Mikha. Helsye, ibu tirinya, dituduh sebagai sosok yang memanggil Songko. Dari sinilah konflik sosial mulai pecah.
Desa yang sebelumnya hidup rukun perlahan berubah menjadi penuh amarah, prasangka, dan ketidakpercayaan. Dan ketika semuanya terasa sudah cukup mencekam, teror yang sebenarnya justru baru dimulai.
Deretan Aktor yang Menghidupkan Atmosfer
Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Khiva Iskak mengungkapkan bahwa pengalaman syuting di Tomohon terasa sangat intens.
Menurutnya, karena cerita yang diangkat berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat setempat, suasana di lokasi syuting terasa lebih hidup dan kadang menegangkan. Sementara itu, Annette Edoarda menilai bahwa kekuatan utama film ini terletak pada ceritanya.
“Songko bukan hanya film horor biasa,” ungkapnya. Cerita ini juga menggambarkan bagaimana ketakutan bisa memecah belah sebuah komunitas. Hal ini membuat film terasa lebih emosional, bukan hanya menyeramkan.
Latar Gunung Lokon dan Nuansa Tahun 1986
Salah satu kekuatan visual dari film ini adalah penggunaan latar di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Lokasi ini dikenal memiliki suasana alam yang dramatis, dengan kabut tebal, udara dingin, dan lanskap yang mendukung atmosfer horor.
Tidak hanya itu, setting tahun 1986 juga memberikan sentuhan berbeda. Di masa tersebut, akses informasi masih terbatas, teknologi belum berkembang pesat, dan kepercayaan masyarakat terhadap hal mistis masih sangat kuat. Hal ini membuat cerita terasa lebih realistis dan mencekam.
Komitmen Mengembangkan Perfilman Daerah
Film “Songko” juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah. Tim produksi tidak hanya menggunakan lokasi asli, tetapi juga membangun set yang dirancang sebagai infrastruktur kreatif jangka panjang.
Selain itu, banyak talenta lokal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon yang dilibatkan dalam produksi. Langkah ini menjadi penting untuk membuka peluang bagi sineas daerah serta memperkaya warna industri film Indonesia.
Horor yang Lebih dari Sekadar Hantu
Yang membuat “Songko” terasa berbeda adalah pendekatannya terhadap horor. Film ini tidak hanya menghadirkan makhluk gaib sebagai sumber ketakutan, tetapi juga menyoroti sisi gelap manusia.
Ketika rasa takut menguasai, manusia bisa berubah. Mereka bisa saling mencurigai, menyalahkan, bahkan menghancurkan satu sama lain. Di sinilah letak horor yang sebenarnya. Bukan hanya tentang apa yang tidak terlihat, tetapi juga tentang bagaimana manusia bereaksi terhadap ketakutan.
Antusiasme dan Teaser Perdana
Menjelang penayangannya, teaser trailer film “Songko” telah dirilis melalui platform digital seperti YouTube. Cuplikan tersebut langsung menarik perhatian karena menampilkan suasana desa yang sunyi, visual yang gelap, serta potongan adegan yang penuh ketegangan.
Banyak penonton yang mulai penasaran dengan sosok Songko dan bagaimana cerita ini akan berkembang. Film ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
“Songko” bukan sekadar film horor biasa. Ia adalah perpaduan antara cerita rakyat, konflik sosial, dan ketakutan yang terasa sangat manusiawi. Dengan mengangkat legenda Minahasa, film ini juga membuka ruang bagi cerita-cerita dari Indonesia Timur untuk dikenal lebih luas.
Bagi kamu pecinta horor, ini adalah tontonan yang tidak boleh dilewatkan. Jadi, apakah kamu siap menyaksikan bagaimana sebuah desa hancur karena ketakutan… dan bagaimana teror Songko sebenarnya dimulai?
Catat tanggalnya, dan bersiaplah. Karena mungkin, setelah menonton film ini, Anda akan melihat ketakutan dengan cara yang berbeda!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan