Secara bahasa, tazkiyah berasal dari kata zakka yang berarti menyucikan, membersihkan, sekaligus menumbuhkan. Dalam Al-Qur’an, konsep ini disebutkan dalam banyak ayat, salah satunya dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa tazkiyah adalah proses membersihkan hati dari penyakit seperti iri, dengki, sombong, riya, dan cinta berlebihan terhadap dunia, lalu mengisinya dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, tawakal, dan syukur.
Dengan kata lain, tazkiyah adalah inner work versi Islam—pekerjaan batin yang fokus pada kesehatan hati sebagai pusat perilaku dan emosi manusia.
Tujuan Tazkiyah dalam Kehidupan Seorang Muslim
Tujuan utama tazkiyah bukan hanya untuk menjadi “orang baik” secara moral, tapi untuk mencapai ketenangan jiwa (nafs mutmainnah). Jiwa yang tenang ini adalah kondisi batin yang stabil, tidak mudah goyah oleh tekanan hidup, dan mampu merespons masalah dengan lebih jernih.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan