image_pdfimage_print

Saat puasa, kadar gula darah (glukosa) menurun karena tubuh tidak mendapat asupan selama beberapa jam. Padahal, otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika gula darah turun terlalu cepat, tubuh bisa merespons dengan rasa lemas, pusing, dan iritabilitas.

Beberapa penelitian terbaru dalam bidang nutrisi dan psikologi (hingga 2025–2026) menegaskan bahwa fluktuasi gula darah berkaitan dengan peningkatan gejala cemas dan mood negatif, terutama pada individu yang sudah memiliki riwayat stres tinggi.

Selain itu, dehidrasi ringan juga bisa memengaruhi konsentrasi dan kestabilan emosi. Bahkan kekurangan cairan ringan sekalipun terbukti dapat menurunkan performa kognitif dan meningkatkan rasa lelah.

Itulah kenapa pola sahur dan berbuka sangat menentukan:

  • Konsumsi karbohidrat kompleks (seperti nasi merah, oatmeal, roti gandum) membantu pelepasan energi lebih stabil.
  • Protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
  • Hindari gula berlebihan saat berbuka karena lonjakan gula darah yang cepat bisa diikuti penurunan drastis.
  • Pastikan asupan cairan cukup di malam hari.

Kalau pola makan berantakan, mood juga cenderung ikut berantakan.

3. Waktu-Waktu Rawan Mood Turun: Siang dan Sore Hari

Kalau kamu merasa paling sensitif di jam-jam tertentu, itu bukan kebetulan. Banyak orang melaporkan bahwa jam paling rawan mental down saat puasa adalah:

  • Sekitar pukul 11.00–14.00
    Energi mulai turun, konsentrasi menurun, dan tubuh mulai terasa berat.
  • Menjelang berbuka (16.30–18.00)
    Ini sering disebut sebagai “jam kritis”. Tubuh sudah cukup lama tidak mendapat asupan, gula darah cenderung rendah, dan rasa lapar memuncak.

Secara biologis, tubuh memang mengalami penurunan energi di siang hingga sore hari karena ritme sirkadian (jam biologis tubuh). Ketika dikombinasikan dengan puasa dan kurang tidur, efeknya bisa terasa lebih kuat.

Ananditha Nursyifa
Editor