image_pdfimage_print

Padahal, Psikologi Islam dan Pendidikan Karakter Anak justru mengintegrasikan keduanya.

Contohnya:

  • Mengajarkan sabar tidak hanya lewat dalil, tetapi juga melatih delay of gratification (kemampuan menunda keinginan).
  • Mengajarkan syukur dengan membiasakan refleksi harian.
  • Mengajarkan tanggung jawab melalui pemberian tugas rumah sesuai usia.

Pendekatan integratif ini membantu anak memahami bahwa agama bukan sekadar aturan, melainkan sistem nilai yang selaras dengan kesehatan mental dan sosial.

Di 2026, banyak sekolah berbasis Islam mulai menggabungkan kurikulum karakter dengan pendekatan psikologi perkembangan, seperti emotional regulation training, social skills learning, dan mindfulness berbasis nilai spiritual.

Tantangan Era Digital dan Peran Orang Tua

Kita tidak bisa menutup mata bahwa anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan digital. Paparan gadget, media sosial, dan konten global membawa peluang sekaligus risiko.

Ananditha Nursyifa
Editor