Perempuan dalam Dua Lensa: Membongkar Cara Pandang Barat vs Islam yang Sering Disalahpahami

Prolite Isu perempuan dan kesetaraan gender terus menjadi topik hangat, terutama di era modern seperti sekarang. Di tahun 2026, diskusi tentang perempuan tidak lagi sekadar soal hak, tapi juga tentang cara pandang dan sistem nilai yang digunakan untuk menilainya.

Selama ini, banyak perdebatan menempatkan Islam seolah-olah harus selalu menjawab tuduhan bahwa ia tidak berpihak pada perempuan. Padahal, sering kali perdebatan tersebut menggunakan standar yang justru berasal dari luar sistem Islam itu sendiri.

Di sinilah pentingnya memahami bagaimana sebenarnya Islam dan Barat melihat perempuan—bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi dari cara berpikir yang mendasarinya.

Ketika Islam Selalu “Diminta Menjelaskan Diri”

Dalam banyak diskursus modern, Islam sering ditempatkan dalam posisi defensif. Ia seolah harus terus menjelaskan bahwa ajarannya relevan dan adil terhadap perempuan.

Isu yang sering disorot biasanya berkaitan dengan syariat, seperti pembagian waris, batas aurat, hingga kesaksian perempuan. Hal-hal ini kerap dibandingkan dengan standar Barat yang dianggap lebih “setara”.

Namun, masalah utamanya bukan pada hasil hukum tersebut, melainkan pada perbedaan cara pandang sejak awal. Ketika dua sistem dibandingkan dengan standar yang berbeda, hasilnya tentu akan tampak tidak seimbang.

Perspektif Buku: Kritik dari Akar Sistem

Buku karya Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (Perempuan: Antara Kezaliman Sistem Barat dan Kelembutan Syariat Islam)menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya membandingkan hasil hukum, tetapi juga membongkar logika sistem yang melahirkannya.

Dalam bukunya, ia menyoroti bahwa sistem Barat sering mengglorifikasi kebebasan individu. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut justru bisa melahirkan bentuk ketidakadilan baru, terutama bagi perempuan.

Pendekatan ini menarik karena tidak terjebak dalam debat permukaan. Al-Buthi justru mengajak pembaca untuk melihat akar epistemologis dari kedua sistem tersebut.

Barat vs Islam: Beda Cara Memahami Manusia

Salah satu poin penting dalam buku ini adalah perbedaan mendasar dalam memahami manusia.

Sistem Barat cenderung melihat manusia sebagai individu yang otonom dan bebas menentukan pilihan. Sementara itu, Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah dan tujuan hidup yang terarah.

Perbedaan ini berdampak langsung pada cara memandang perempuan. Dalam Islam, peran dan hukum tidak hanya dilihat dari sisi kebebasan, tetapi juga dari keseimbangan dan tanggung jawab.

Tidak Sekadar “Siapa Mendapat Apa”

Perdebatan tentang perempuan sering kali terjebak pada pertanyaan: siapa mendapat apa? Padahal, menurut Al-Buthi, yang lebih penting adalah bagaimana manusia dipahami sejak awal. Karena dari situlah semua aturan dan sistem lahir. Dengan kata lain, perbedaan antara Barat dan Islam bukan hanya soal hasil akhir, tapi soal cara berpikir yang mendasarinya.

Membongkar Syariat yang Sering Disalahpahami

Buku ini juga membahas beberapa syariat yang sering menjadi bahan kritik.

Salah satunya adalah soal kesaksian perempuan yang sering dianggap tidak setara. Dalam penjelasannya, Al-Buthi menyoroti bahwa hukum tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi mempertimbangkan banyak aspek, termasuk kondisi psikologis dan sosial.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa hukum dalam Islam tidak muncul secara acak, melainkan melalui kerangka berpikir yang kompleks.

Kritik untuk Umat Muslim Sendiri

Menariknya, buku ini tidak hanya mengkritik Barat, tetapi juga mengajak refleksi bagi umat Muslim.

Al-Buthi menyebut bahwa masalah terbesar bukan hanya tuduhan terhadap Islam, tetapi bagaimana umatnya merespons tuduhan tersebut.

Ia melihat ada dua kecenderungan: sebagian hanya menjadikan Islam sebagai identitas, sementara yang lain membela Islam secara defensif tanpa memahami esensinya.

Relevansi di Era Modern

Di tengah arus globalisasi dan pengaruh budaya digital, banyak nilai Barat yang masuk tanpa disadari.

Hal ini membuat sebagian orang merasa bahwa syariat Islam tidak lagi relevan. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan pada ajarannya, melainkan pada cara kita memahaminya.

Dalam konteks ini, buku Al-Buthi menjadi penting sebagai pengingat untuk kembali melihat Islam dari sudut pandangnya sendiri.

Antara Ideal dan Realitas Sosial

Meski menawarkan konsep yang kuat, buku ini juga membuka ruang diskusi tentang implementasi di dunia nyata.

Dalam praktiknya, tidak semua sistem berjalan sesuai dengan idealnya. Banyak faktor sosial dan budaya yang memengaruhi bagaimana perempuan diposisikan.

Ini menjadi tantangan bagi pembaca masa kini untuk menjembatani antara konsep dan realitas.

Sudut Pandang Menentukan Segalanya

Pada akhirnya, cara kita memahami perempuan sangat bergantung pada sistem nilai yang kita gunakan. Apakah kita melihatnya hanya dari perspektif kebebasan, atau dari keseimbangan antara hak dan tanggung jawab?

Artikel ini bukan untuk menentukan mana yang paling benar, tetapi untuk mengajak kamu berpikir lebih dalam.

Yuk, mulai baca, diskusikan, dan pahami isu perempuan dari berbagai sudut pandang. Karena semakin kita memahami, semakin bijak kita dalam bersikap. ✨

Ananditha Nursyifa
Editor