Menurutnya, aktivasi perdana yang sebelumnya diuji coba telah memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
“Kami berharap Padaringan Leuweung Awi Cisurupan dapat terus konsisten diselenggarakan dua kali setiap bulan, sekaligus menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, dan penguatan wisata berbasis masyarakat,” katanya.
Selain menikmati kuliner tradisional khas Sunda, pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan seni, suasana hutan bambu yang masih alami, hingga mengunjungi situs religi Mbah Garut yang berada di kawasan tersebut.
Peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh Wali Kota Bandung sebagai simbol dimulainya aktivasi Padaringan Leuweung Awi Cisurupan sebagai destinasi wisata baru berbasis pelestarian alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan