Dalam psikologi Islam, nafs merujuk pada diri manusia secara utuh, mencakup aspek emosional, dorongan biologis, kecenderungan psikologis, serta kesadaran moral. Al-Qur’an menggunakan istilah nafs dalam berbagai konteks, mulai dari menyebut jiwa manusia, keinginan batin, hingga identitas diri.
Berbeda dengan pemahaman populer yang sering menyamakan nafs dengan sesuatu yang negatif, tradisi Islam melihat nafs sebagai sesuatu yang dinamis. Ia bisa menjadi sumber masalah jika tidak dikendalikan, tetapi juga bisa menjadi sarana pertumbuhan spiritual jika diarahkan dengan benar.
Para ulama dan sufi memandang nafs sebagai medan perjuangan batin (jihad an-nafs). Artinya, perjalanan hidup manusia bukan hanya tentang menghadapi dunia luar, tetapi juga tentang mengelola dorongan dan konflik internal. Dari sudut pandang psikologi, konsep ini sejalan dengan gagasan tentang regulasi emosi, kontrol diri, dan pengembangan kepribadian.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan