Lanjut Farhan jika dilihat dari inflasi Januari hingga Oktober, ada beberapa komoditas yang memicu inflasi di Kota Bandung, harga beras, harga bensin, harga gas dapur, emas perhiasan karena permintaan masyarakat Bandung cukup tinggi, dan kebutuhan rokok putih bermerek luar negeri.
“Artinya, yang paling penting adalah memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi terlebih dahulu. Setelah itu, masyarakat Bandung diharapkan tetap memiliki kemampuan untuk menabung, membeli emas, dan menikmati gaya hidupnya.” imbuhnya.
Namun tantangan ekonomi Kota Bandung saat ini, kata Farhan menambahkan adalah pertumbuhan ekonomi yang belum merata atau kualitas pertumbuhannya masih kurang.
“Ketimpangan sosial di Kota Bandung juga cukup tinggi. Ini yang harus kita hadapi bersama dengan memastikan harga beras SPHP tetap terjangkau. Sebanyak 30 persen peredaran beras SPHP di Kota Bandung dikendalikan oleh Bulog, dengan harga yang tidak boleh lebih dari Rp12.500 per kilogram.” tandasnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan