Ia mengingatkan, konsep MPLS saat ini telah berubah dibandingkan masa lalu. Kegiatan pengenalan sekolah tidak lagi identik dengan ospek atau bentuk-bentuk pembinaan yang keras.
“Kalau dulu mungkin kita mengenal ospek. Sekarang sudah tidak seperti itu. Anak-anak datang ke sekolah dengan zamannya sendiri. MPLS harus menjadi kegiatan yang menyenangkan, membangun karakter, dan membuat anak merasa nyaman,” katanya.
Iskandar berharap, sekolah mampu menghadirkan suasana yang membuat peserta didik merasa aman dan bahagia. Ia menyinggung pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak di tengah meningkatnya kasus depresi pada usia sekolah.
“Ada data yang menyebutkan lebih dari 60 persen anak mengalami depresi. Karena itu sekolah harus menjadi tempat yang happy. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi anak-anak,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan