Menjadi Pembuka LINGGARIA Festival
Komitmen melestarikan teureubangan juga terlihat dalam penyelenggaraan LINGGARIA Festival.
Dalam konsep festival tersebut, teureubangan direncanakan menjadi opening ceremony yang membuka seluruh rangkaian acara.
Pemilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Tabuhan rebana dan lantunan shalawat dipercaya mampu menghadirkan nuansa religius, memperkuat semangat persatuan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kemeriahan sebuah festival tetap dapat berpijak pada nilai-nilai budaya dan spiritual.
Melalui LINGGARIA, masyarakat akan diajak menikmati berbagai kegiatan mulai dari peringatan kemerdekaan, Maulid Nabi, kegiatan berbagi kepada sesama, hingga Festival UMKM yang melibatkan pelaku usaha lokal.
Dengan demikian, festival ini bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Menjaga Warisan, Menyambut Masa Depan
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, keberadaan teureubangan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya.
Justru dengan melestarikan kesenian tradisional, masyarakat dapat menjaga identitas sekaligus mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Rancaekek telah menunjukkan bahwa warisan budaya akan tetap hidup ketika masyarakat, terutama generasi muda, mau terlibat dan merasa bangga menjadi bagian darinya.
Semoga tabuhan rebana dan lantunan shalawat teureubangan terus menggema, bukan hanya di kampung-kampung Jawa Barat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus merawat kekayaan budaya Nusantara. Karena sejatinya, menjaga tradisi bukan berarti berjalan ke belakang, melainkan membawa warisan masa lalu agar tetap bermakna di masa depan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan